Categorized | Serba Serbi

2 Layer Untuk Tim SMA!


Mulai tahun ajaran 2012/2013, ICC memberlakukan aturan baru khusus untuk tim Sekolah Menengah Atas (SMA), yakni
(1) Pyramid maksimal 2 layer, dan
(2) No inversion dalam partner stunt dan pyramid.

Perubahan dikami rasa sangat perlu dilakukan segera, demi keselamatan Cheerleaders di seluruh Indonesia. Perubahan ini sebenarnya sudah kami pertimbangkan sejak 2-3 tahun lalu, namun masih pertimbangkan dengan berbagai alasan, dan baru diwujudkan tahun ini. Berlaku sejak tahun ajaran 2012/2013. aturan baru ini akan segera diberlakukan aktif untuk seluruh tim ICC di seluruh Indonesia. Sementara untuk tim-tim selain ICC, kita himbau untuk bersama-sama cepat atau lambat segera menyesuaikan dan mengikuti perubahan ini.

Pasti akan langsung banyak muncul pertanyaan:
– “Wah, Jadi ga seru dong nanti tim SMA cuma 2 layer?”
– “Jadi ga ada bedanya dong nanti tim SMA dengan tim SMP?”
– “Hmm.. Penonton jadi ga bakal tertarik lagi nanti liat tim SMA cuma 2 layer?”

Sebelum comment, atau mengajukan pertanyaan, mohon dibaca sampai bawah dulu yaa. Berikut alasannya:

ALASAN PERTAMA:
SAFETY!!!

Dalam beberapa tahun terakhir, tim-tim SMA tampaknya semakin hari semakin “nekad” untuk membuat pyramid 3 layer yang sangat berbahaya, seperti 1-1-1 tanpa spotter, atau 3-3-2 dengan base shoulder stand yang masih sangat goyah, dan sebagainya. Banyak juga yang “memaksa” melakukan basket toss “back tuck” untuk mengejar nilai tinggi dalam kompetisi, sementara teknik yang digunakan masih jauh dari sempurna, dan menjadi sangat berbahaya.

Di Indonesia, tim SMA rata-rata berlatih hanya 1-2 kali seminggu, dengan durasi rata-rata hanya 3-4 jam per sesi. Dengan porsi latihan seperti ini, sebenarnya mustahil jika tim SMA diharapkan untuk mampu menguasai semua teknik yang sulit, hanya dalam jangka waktu 2-2,5 tahun masa sekolah mereka!

Memang, seharusnya, semuanya adalah tergantung pada PELATIH, yang seharusnya mampu mengukur kemampuan tim-nya, dan TIDAK MEMAKSAKAN untuk menguasai skill yang lebih sulit jika memang fisik dan teknik muridnya masih belum memadai. Namun sangat sulit sekali untuk mengatur para pelatih, karena mereka juga punya pola pikir tersendiri, dan terkadang karena keinginan Cheerleaders-nya sendiri, untuk memaksakan melakukan skill yang sulit demi mengejar nilai tinggi dalam kompetisi, tanpa didukung fisik dan teknik yang memadai.

Sebuah cerita nyata di Thailand, negara yang kita tahu Cheerleading-nya sudah berkembang sangat pesat. Beberapa tahun lalu, Thailand MEMPERBOLEHKAN tim SMA melakukan pyramid 3 layer dan inversion. Namun, sama halnya dengan di Indonesia, karena porsi latihan yang sangat terbatas, dan fisik yang masih belum memadai, akhirnya seringkali terjadi cedera fatal. Hingga pada akhirnya, seorang top person jatuh dari pyramid layer ketiga, dan meninggal dunia.Kejadian tersebut sangat mengejutkan publik Cheerleading Thailand, dan dengan segera, seluruh SMA di Thailand melarang ekskul Cheerleading! Selama beberapa tahun, Cheerleading akhirnya tidak berkembang di Thailand, hingga akhirnya pihak TFC (Thailand Federation of Cheerleading) berhasil meyakinkan pihak sekolah dan publik, bahwa CHEERLEADING SEBENARNYA ADALAH OLAH RAGA YANG AMAN, JIKA DILAKUKAN SESUAI DENGAN PERATURAN YANG BERLAKU, yakni pyramid 2 layer, dan no inversion untuk tingkat SMA. Dan sejak itulah akhirnya Cheerleading kembali berkembang dengan peraturan baru tersebut.

Makna yang bisa diambil dari kejadian itu? Tentu saja, jangan sampai kita menunggu sampai ada “kejadian” dulu baru kita merubah peraturan, bukan?

ALASAN KEDUA:
PERBAIKAN TEKNIK DASAR!

Dengan tidak diperbolehkannya pyramid 3 layer dan inversion, maka Cheerleader SMA akan punya lebih banyak waktu untuk melatih TEKNIK DASAR CHEERLEADING, sesuatu yang seringkali dilewati atau diabaikan oleh Cheerleader dan pelatih, demi untuk mengejar nilai tinggi dan mempelajari teknik yang lebih sulit.

Percayalah, dalam olah raga apapun, untuk menguasai teknik yang sulit, kita harus menguasai dengan sempurna dulu teknik yang lebih mudah. JIka teknik yang mudah hanya “BISA DILAKUKAN” namun BELUM SEMPURNA”, maka akan sangat sulit, dan berbahaya, untuk mempelajari teknik yang lebih sulit.
Contoh: Banyak sekali Cheerleader yang belum menguasai teknik “pop-up craddle” dengan sempurna. Kebanyakan dari kita hanya bisa “MELAKUKAN”, namun belum “MENGUASAI” dengan teknik yang 100% benar dan sempurna. Sementara, teknik pop-up craddle ini seharusnya dikuasai dengan sempurna dulu sebelum mempelajari teknik craddle yang lain, seperti twist, atau bahkan double twist (full twist).

AKibatnya? Banyak sekali yang akhirnya “memaksa” untuk melakukan craddle twist (sekali lagi, untuk mengejar nilai tinggi), dengan menggunakan teknik yang jauh dari benar dan aman. Selain partner stunt dan pyramid, Cheerleader juga akan punya lebih banyak waktu untuk mempelajari elemen lain dalam Cheerleading yang tidak kalah pentingnya, seperti ARM MOTION, TUMBLINGS, JUMPS, bahkan EKSPRESI. Sering kali dalam kompetisi sangat disayangkan melihat tim-tim yang melakukan pyramid dan stunt yang gila-gilaan, sementara High-V nya saja masih berantakan, atau cartwheel yang lututnya masih bengkok, ekspresi yang panik sepanjang routine, dan sebagainya.

Selama ini mungkin lebih dari 90% waktu latihan tim Cheerleading SMA, adalah untuk melatih Partner Stunt dan Pyramid, demi mengejar skill-skill yang sulit. Dengan diturunkannya standar untuk tim SMA, diharapkan Cheerleader dan pelatih dapat meluangkan waktu latihan lebih untuk teknik-teknik dasar yang saya sebutkan tadi di atas.

ALASAN KETIGA:
MEMANG SEHARUSNYA BEGITU!

Hampir di SELURUH DUNIA, aturan yang berlaku untuk tingkat SMA (usia 15-18 tahun) adalah pyramid maks 2 layer dan no inversion. Coba saja lihat sendiri, di Thailand, Singapore, Philipines, bahkan di Amerika Serikat, dan bahkan di seluruh Eropa… semuanya menggunakan standar yang sama untuk tingkat SMA. Tiap negara kadang menggunakan pengelompokkan yang berbeda, misalnya utk tingkat sekolah tertentu, berdasar level tertentu, dan sebagainya, tapi intinya menurut saya tetap sama. (Perkecualian: baca di bawah nanti)

Jadi, bila di negara asalnya sendiri saja, Cheerleading tingkat SMA hanya boleh membuat pyramid 2 layer dan no inversion, kenapa kita di Indonesia yang masih seumur jagung belajar Cheerleading, berani-beraninya mengijinkan 3 layer untuk pyramid, dan memperbolehkan inversion??

Bukannya sekedar mau “ikut-ikutan”, tapi ibaratnya mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun lebih dahulu mempelajari Cheerleading, tentu punya alasan khusus dan sudah terbukti, bahwa pyramid 3 layer dan inversi untuk tingkat SMA adalah dianggap berbahaya. Jadi, mengapa kita mesti bikin aturan sendiri tanpa alasan yang jelas?

Satu-satunya perkecualian tentang pyramid 3 layer dan inversi untuk tingkat SMA, adalah di Jepang, dimana mereka mengijinkan kedua hal tersebut dilakukan untuk tim tingkat SMA. Kenapa? Karena 2 hal berikut:Satu, karena PELATIH-PELATIH DI JEPANG SANGAT DISIPLIN!!! Mereka tidak akan pernah memaksakan anaknya melakukan basket toss, misalnya, jika elevator saja belum dikuasai dengan sempurna.Dua, karena tim-tim Jepang memiliki jam latihan yang sangat banyak. Rata-rata mereka berlatih 5-6 kali seminggu, dengan porsi 4-6 jam per latihan!! Dengan SANGAT SEDIKIT istirahat! Beberapa tim yang langganan juara bahkan berlatih 7x seminggu!! Di hari minggu, hari yang seharusnya libur, justru mereka manfaatkan untuk latihan, dari jam 8 pagi hingga 6 sore!!

Dengan dua alasan tersebut di atas, Cheerleading di Jepang berkembang menjadi SANGAT PESAT, dengan penguasaan teknik yang di atas rata-rata tim lain di dunia.Dengan porsi latihan yang sangat besar, dan disiplin pelatih yang ekstra ketat, teknik-teknik yang biasanya dipelajari oleh tim SMA Indonesia dalam 1 tahun, bisa mereka kuasai DENGAN SEMPURNA dalam 5-6 bulan. Hingga dalam jangkat waktu 1 tahun lebih, pyramid 2 layer sudah dikuasai dengan baik dan dengan teknik yang sempurna, sehingga tidak ada lagi tantangan bagi mereka. Maka dari itulah Federasi Cheerleading Jepang akhirnya menaikkan standar tim SMA Jepang, agar para Cheerleader SMA dapat menggali potensi mereka lebih dalam, mempelajari skill yang lebih sulit.

Demikianlah alasan ICC memutuskan untuk membelakukan perubahan ini dengan segera, aktif mulai tahun ajaran baru 2012/2013.

Jika sampai membaca disini, masih terlintas di pikiran anda, “yaah, nanti jadi ga seru dong kalo cuma 2 layer, pasti penonton liatnya juga jadi ga seru.. nanti orang jadi kurang respect dengan Cheerleading dan ujung-ujungnya anak SMA jadi tidak tertarik untuk mempelajari Cheerleading”..

Buat yang masih berpikir seperti itu, ayo mari dirubah pola pikirnya..

Satu, Cheerleading itu olah raga. Dalam olah raga apapun, harus ada safety rules yang jelas, dan TERBUKTI DI HAMPIR SELURUH DUNIA.Jangan karena sudah terlanjur salah kaprah, lantas kita semua menggunakan standar yang beda dan sama sekali tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia.

Dua, bagi orang awam, melihat pop-up craddle yang sempurna saja, seringkali sudah mengundang decak kagum. Apalagi jika melihat basket toss toe touch yang tinggi dan sempurna, atau misalnya ekstension liberty dengan heel stretch dan dismount twist craddle yang cantik, sudah jadi tontonan yang sangat sangat menarik bagi penonton. Jadi, tidak perlu pyramid 3 layer dan teknik inversi untuk menarik minat masyarakat untuk tertarik dengan Cheerleading, bukan?

Tiga, Belajar dari pengalaman di Thailand (dan banyak negara lainnya), jangan menunggu ada yang sampai meninggal, baru kita berpikir dua kali dan akhirnya merubah peraturan.

Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah:
“Ada beberapa tim SMA yang sebenarnya cukup siap untuk melakukan pyramid 3 layer dan inversion dengan teknik yang benar. Apakah ga akan jadi “membatasi” mereka tu nantinya?”
Jawaban: Memang ADA, tapi SANGAT SEDIKIT. Dari pengalaman NCC tahun lalu, dari sekitar 120 tim peserta, rasanya hanya 3-4 tim yang terlihat CUKUP mampu.. Itupun hanya “CUKUP”.. belum “MENGUASAI DENGAN SEMPURNA”. Bayangkan jika mereka tidak diijinkan untuk melakukan pyramid 3 layer dan inversion.. betapa sempunanya teknik dasar mereka nanti (karena akan lebih sering diasah), dan betapa menariknya Cheerleading Indonesia di masa depan nanti.

Mohon dipahami bahwa ICC punya “tanggung jawab moral” untuk seluruh tim Cheerleading di seluruh Indonesia. Bisa saja jauh di pedalaman di sebuah pulau di Indonesia, seorang siswi SMA melihat video NCC di Youtube, dan mengajak teman-temannya untuk membuat pyramid atau stunt yang sama, TANPA dibekali dengan teknik yang benar dan aman. Itu mungkin contoh kasar saja, namun pada intinya itulah yang akan terus terjadi, bukan hanya di pedalaman di suatu pulau, tapi bahkan di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Jakarta.

Di titik ini, saya sangat yakin, mungkin saya baru bisa meyakinkan 50% dari kalian. Sisanya pasti masih beranggapan bahwa penurunan standar ini akan menurunkan kualitas Cheerleading di Indonesia. Sekali lagi saya coba yakinkan, KUALITAS sebuah olah raga bukanlah ditentukan dari SEBERAPA SULIT teknik yang dilakukan.. sama sekali bukan. Olah raga yang berkualitas adalah yang dilakukan dengan teknik yang benar dan aman!

Ditulis Oleh:
OKI TRIHARTOMO
Presiden ICC
Rules Committe – Asian Federation of Cheerleading
IFC Qualifed Judge

Latar Belakang Cheerleading:
– Anggota tim ICC All-Stars dalam CAIOC 2007, Tokyo, Jepang
– Anggota tim ICC All-Stars 2006-2008

Pendidikan Cheerleading:
– IFC Class I Course, Tokyo, Jepang 2006
– IFC Class II Course, Tokyo Jepang, 2008
– IFC Judging COurse, Moscow, Russia, 2009

Pengalaman Melatih:
– Pelatih tim ICC All-Stars 2008-sekarang
– Pelatih tim Nasional Cheerleading Indonesia dalam World Cheerleading Championship 2009 di Bremen Germany, dan 2011 di Hong KOng.
– Instruktur IFC CLass I Course, Bangkok, Thailand
– Instruktur IFC Class I Course, Manila, Philippines
– Instruktur IFC Class I Course Singapore

Pengalaman Juri:
– Shadow judging IFC Cup, Moscow, Russia, 2009
– Juri Cheerleading Asia INternational Open CHampionship (CAIOC), Tokyo, Jepang
– Juri Asian-Thailand Cheerleading Invitational di Bangkok, Thailand, 2008, 2009, 2010, 2011
– Juri Thailand National Cheerleading Championship, 2012
– Juri Phillipinnes National Games, Bacolod City, Philippines, 2010
– Juri Cheerobics, Singapore,
– Juri Singapore Cheerleading Championship, Singapore, 2010, 2011, 2012
– Juri Cheerleading World Championship (CWC) 2009, Bremen, Germany
– Juri Cheerleading World Championship (CWC) 2011, Hong Kong

Use Facebook to Comment on this Post

3 Comments For This Post

  1. Vino Says:

    Siap laksanakan kak……. mohon informasi dan bimbingannya selalu

  2. Taufik Says:

    setuju ka ,,, penurunan level dari level 6 ke level 5 ( atau apapun itu istilahnya ) bukan berarti cheerleading di indonesia menjadi menurun. menurut data, tim2 cheerleader di indonesia semakin bertambah banyak . mungkin perlu pembinaan/sosialisai tentang pentingnya safety rules yang jelas .. cheerleading itu bukan hanya dari aspek piramid tapi bayak aspek yang perlu dikembangkan contohnya adalah tumbling. . perlu pengembangan dari aspek tumbling , negara lain saja sudah series tumbling yang sulit sedangkan kebanyakan di indonesia menganggap tumbing hanya selingan saja :) inilah pandangan saya . semoga cheerleader di indonesia bisa bersatu dan duduk bersama , menggali visi yg sama untuk kemajuan INDONESIA

  3. redaksi Says:

    amin. Makasi comment-nya Taufik. Seneng denger kalo Cheerleader di Indonesia mulai “dewasa” dalam berpikir yang terbaik untuk kemajuan Cheerleading Indonesia.