Archive | Serba Serbi

Coaching Clinic Semarang 2013


Pada tanggal 3 Maret 2013 ICC menggelar Coaching Clinic di Semarang, tepatnya di SD Laboratorium Kristen Satya Wacana, Jl. Yos Sudarso No 1 Salatiga. Mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Event ini diikuti oleh puluhan Cheerleaders dari kota Semarang, Salatiga, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah, dengan instruktur Kak Ami Sulistyo dari ICC Jakarta. Peserta diberi beberapa materi teknik dasar Cheerleading yang baik dan benar sesuai dengan standar International Federation of Cheerleading (IFC). Event ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas CHeerleading di Jawa Tengah pada umumnya, dan di Semarang pada khususnya.

Beberapa foto Coaching Clinic ICC Semarang 2013:





Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (0)

2 Layer Untuk Tim SMA!



Mulai tahun ajaran 2012/2013, ICC memberlakukan aturan baru khusus untuk tim Sekolah Menengah Atas (SMA), yakni
(1) Pyramid maksimal 2 layer, dan
(2) No inversion dalam partner stunt dan pyramid.

Perubahan dikami rasa sangat perlu dilakukan segera, demi keselamatan Cheerleaders di seluruh Indonesia. Perubahan ini sebenarnya sudah kami pertimbangkan sejak 2-3 tahun lalu, namun masih pertimbangkan dengan berbagai alasan, dan baru diwujudkan tahun ini. Berlaku sejak tahun ajaran 2012/2013. aturan baru ini akan segera diberlakukan aktif untuk seluruh tim ICC di seluruh Indonesia. Sementara untuk tim-tim selain ICC, kita himbau untuk bersama-sama cepat atau lambat segera menyesuaikan dan mengikuti perubahan ini.

Pasti akan langsung banyak muncul pertanyaan:
- “Wah, Jadi ga seru dong nanti tim SMA cuma 2 layer?”
- “Jadi ga ada bedanya dong nanti tim SMA dengan tim SMP?”
- “Hmm.. Penonton jadi ga bakal tertarik lagi nanti liat tim SMA cuma 2 layer?”

Sebelum comment, atau mengajukan pertanyaan, mohon dibaca sampai bawah dulu yaa. Berikut alasannya:

ALASAN PERTAMA:
SAFETY!!!

Dalam beberapa tahun terakhir, tim-tim SMA tampaknya semakin hari semakin “nekad” untuk membuat pyramid 3 layer yang sangat berbahaya, seperti 1-1-1 tanpa spotter, atau 3-3-2 dengan base shoulder stand yang masih sangat goyah, dan sebagainya. Banyak juga yang “memaksa” melakukan basket toss “back tuck” untuk mengejar nilai tinggi dalam kompetisi, sementara teknik yang digunakan masih jauh dari sempurna, dan menjadi sangat berbahaya.

Di Indonesia, tim SMA rata-rata berlatih hanya 1-2 kali seminggu, dengan durasi rata-rata hanya 3-4 jam per sesi. Dengan porsi latihan seperti ini, sebenarnya mustahil jika tim SMA diharapkan untuk mampu menguasai semua teknik yang sulit, hanya dalam jangka waktu 2-2,5 tahun masa sekolah mereka!

Memang, seharusnya, semuanya adalah tergantung pada PELATIH, yang seharusnya mampu mengukur kemampuan tim-nya, dan TIDAK MEMAKSAKAN untuk menguasai skill yang lebih sulit jika memang fisik dan teknik muridnya masih belum memadai. Namun sangat sulit sekali untuk mengatur para pelatih, karena mereka juga punya pola pikir tersendiri, dan terkadang karena keinginan Cheerleaders-nya sendiri, untuk memaksakan melakukan skill yang sulit demi mengejar nilai tinggi dalam kompetisi, tanpa didukung fisik dan teknik yang memadai.

Sebuah cerita nyata di Thailand, negara yang kita tahu Cheerleading-nya sudah berkembang sangat pesat. Beberapa tahun lalu, Thailand MEMPERBOLEHKAN tim SMA melakukan pyramid 3 layer dan inversion. Namun, sama halnya dengan di Indonesia, karena porsi latihan yang sangat terbatas, dan fisik yang masih belum memadai, akhirnya seringkali terjadi cedera fatal. Hingga pada akhirnya, seorang top person jatuh dari pyramid layer ketiga, dan meninggal dunia.Kejadian tersebut sangat mengejutkan publik Cheerleading Thailand, dan dengan segera, seluruh SMA di Thailand melarang ekskul Cheerleading! Selama beberapa tahun, Cheerleading akhirnya tidak berkembang di Thailand, hingga akhirnya pihak TFC (Thailand Federation of Cheerleading) berhasil meyakinkan pihak sekolah dan publik, bahwa CHEERLEADING SEBENARNYA ADALAH OLAH RAGA YANG AMAN, JIKA DILAKUKAN SESUAI DENGAN PERATURAN YANG BERLAKU, yakni pyramid 2 layer, dan no inversion untuk tingkat SMA. Dan sejak itulah akhirnya Cheerleading kembali berkembang dengan peraturan baru tersebut.

Makna yang bisa diambil dari kejadian itu? Tentu saja, jangan sampai kita menunggu sampai ada “kejadian” dulu baru kita merubah peraturan, bukan?

ALASAN KEDUA:
PERBAIKAN TEKNIK DASAR!

Dengan tidak diperbolehkannya pyramid 3 layer dan inversion, maka Cheerleader SMA akan punya lebih banyak waktu untuk melatih TEKNIK DASAR CHEERLEADING, sesuatu yang seringkali dilewati atau diabaikan oleh Cheerleader dan pelatih, demi untuk mengejar nilai tinggi dan mempelajari teknik yang lebih sulit.

Percayalah, dalam olah raga apapun, untuk menguasai teknik yang sulit, kita harus menguasai dengan sempurna dulu teknik yang lebih mudah. JIka teknik yang mudah hanya “BISA DILAKUKAN” namun BELUM SEMPURNA”, maka akan sangat sulit, dan berbahaya, untuk mempelajari teknik yang lebih sulit.
Contoh: Banyak sekali Cheerleader yang belum menguasai teknik “pop-up craddle” dengan sempurna. Kebanyakan dari kita hanya bisa “MELAKUKAN”, namun belum “MENGUASAI” dengan teknik yang 100% benar dan sempurna. Sementara, teknik pop-up craddle ini seharusnya dikuasai dengan sempurna dulu sebelum mempelajari teknik craddle yang lain, seperti twist, atau bahkan double twist (full twist).

AKibatnya? Banyak sekali yang akhirnya “memaksa” untuk melakukan craddle twist (sekali lagi, untuk mengejar nilai tinggi), dengan menggunakan teknik yang jauh dari benar dan aman. Selain partner stunt dan pyramid, Cheerleader juga akan punya lebih banyak waktu untuk mempelajari elemen lain dalam Cheerleading yang tidak kalah pentingnya, seperti ARM MOTION, TUMBLINGS, JUMPS, bahkan EKSPRESI. Sering kali dalam kompetisi sangat disayangkan melihat tim-tim yang melakukan pyramid dan stunt yang gila-gilaan, sementara High-V nya saja masih berantakan, atau cartwheel yang lututnya masih bengkok, ekspresi yang panik sepanjang routine, dan sebagainya.

Selama ini mungkin lebih dari 90% waktu latihan tim Cheerleading SMA, adalah untuk melatih Partner Stunt dan Pyramid, demi mengejar skill-skill yang sulit. Dengan diturunkannya standar untuk tim SMA, diharapkan Cheerleader dan pelatih dapat meluangkan waktu latihan lebih untuk teknik-teknik dasar yang saya sebutkan tadi di atas.

ALASAN KETIGA:
MEMANG SEHARUSNYA BEGITU!

Hampir di SELURUH DUNIA, aturan yang berlaku untuk tingkat SMA (usia 15-18 tahun) adalah pyramid maks 2 layer dan no inversion. Coba saja lihat sendiri, di Thailand, Singapore, Philipines, bahkan di Amerika Serikat, dan bahkan di seluruh Eropa… semuanya menggunakan standar yang sama untuk tingkat SMA. Tiap negara kadang menggunakan pengelompokkan yang berbeda, misalnya utk tingkat sekolah tertentu, berdasar level tertentu, dan sebagainya, tapi intinya menurut saya tetap sama. (Perkecualian: baca di bawah nanti)

Jadi, bila di negara asalnya sendiri saja, Cheerleading tingkat SMA hanya boleh membuat pyramid 2 layer dan no inversion, kenapa kita di Indonesia yang masih seumur jagung belajar Cheerleading, berani-beraninya mengijinkan 3 layer untuk pyramid, dan memperbolehkan inversion??

Bukannya sekedar mau “ikut-ikutan”, tapi ibaratnya mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun lebih dahulu mempelajari Cheerleading, tentu punya alasan khusus dan sudah terbukti, bahwa pyramid 3 layer dan inversi untuk tingkat SMA adalah dianggap berbahaya. Jadi, mengapa kita mesti bikin aturan sendiri tanpa alasan yang jelas?

Satu-satunya perkecualian tentang pyramid 3 layer dan inversi untuk tingkat SMA, adalah di Jepang, dimana mereka mengijinkan kedua hal tersebut dilakukan untuk tim tingkat SMA. Kenapa? Karena 2 hal berikut:Satu, karena PELATIH-PELATIH DI JEPANG SANGAT DISIPLIN!!! Mereka tidak akan pernah memaksakan anaknya melakukan basket toss, misalnya, jika elevator saja belum dikuasai dengan sempurna.Dua, karena tim-tim Jepang memiliki jam latihan yang sangat banyak. Rata-rata mereka berlatih 5-6 kali seminggu, dengan porsi 4-6 jam per latihan!! Dengan SANGAT SEDIKIT istirahat! Beberapa tim yang langganan juara bahkan berlatih 7x seminggu!! Di hari minggu, hari yang seharusnya libur, justru mereka manfaatkan untuk latihan, dari jam 8 pagi hingga 6 sore!!

Dengan dua alasan tersebut di atas, Cheerleading di Jepang berkembang menjadi SANGAT PESAT, dengan penguasaan teknik yang di atas rata-rata tim lain di dunia.Dengan porsi latihan yang sangat besar, dan disiplin pelatih yang ekstra ketat, teknik-teknik yang biasanya dipelajari oleh tim SMA Indonesia dalam 1 tahun, bisa mereka kuasai DENGAN SEMPURNA dalam 5-6 bulan. Hingga dalam jangkat waktu 1 tahun lebih, pyramid 2 layer sudah dikuasai dengan baik dan dengan teknik yang sempurna, sehingga tidak ada lagi tantangan bagi mereka. Maka dari itulah Federasi Cheerleading Jepang akhirnya menaikkan standar tim SMA Jepang, agar para Cheerleader SMA dapat menggali potensi mereka lebih dalam, mempelajari skill yang lebih sulit.

Demikianlah alasan ICC memutuskan untuk membelakukan perubahan ini dengan segera, aktif mulai tahun ajaran baru 2012/2013.

Jika sampai membaca disini, masih terlintas di pikiran anda, “yaah, nanti jadi ga seru dong kalo cuma 2 layer, pasti penonton liatnya juga jadi ga seru.. nanti orang jadi kurang respect dengan Cheerleading dan ujung-ujungnya anak SMA jadi tidak tertarik untuk mempelajari Cheerleading”..

Buat yang masih berpikir seperti itu, ayo mari dirubah pola pikirnya..

Satu, Cheerleading itu olah raga. Dalam olah raga apapun, harus ada safety rules yang jelas, dan TERBUKTI DI HAMPIR SELURUH DUNIA.Jangan karena sudah terlanjur salah kaprah, lantas kita semua menggunakan standar yang beda dan sama sekali tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia.

Dua, bagi orang awam, melihat pop-up craddle yang sempurna saja, seringkali sudah mengundang decak kagum. Apalagi jika melihat basket toss toe touch yang tinggi dan sempurna, atau misalnya ekstension liberty dengan heel stretch dan dismount twist craddle yang cantik, sudah jadi tontonan yang sangat sangat menarik bagi penonton. Jadi, tidak perlu pyramid 3 layer dan teknik inversi untuk menarik minat masyarakat untuk tertarik dengan Cheerleading, bukan?

Tiga, Belajar dari pengalaman di Thailand (dan banyak negara lainnya), jangan menunggu ada yang sampai meninggal, baru kita berpikir dua kali dan akhirnya merubah peraturan.

Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah:
“Ada beberapa tim SMA yang sebenarnya cukup siap untuk melakukan pyramid 3 layer dan inversion dengan teknik yang benar. Apakah ga akan jadi “membatasi” mereka tu nantinya?”
Jawaban: Memang ADA, tapi SANGAT SEDIKIT. Dari pengalaman NCC tahun lalu, dari sekitar 120 tim peserta, rasanya hanya 3-4 tim yang terlihat CUKUP mampu.. Itupun hanya “CUKUP”.. belum “MENGUASAI DENGAN SEMPURNA”. Bayangkan jika mereka tidak diijinkan untuk melakukan pyramid 3 layer dan inversion.. betapa sempunanya teknik dasar mereka nanti (karena akan lebih sering diasah), dan betapa menariknya Cheerleading Indonesia di masa depan nanti.

Mohon dipahami bahwa ICC punya “tanggung jawab moral” untuk seluruh tim Cheerleading di seluruh Indonesia. Bisa saja jauh di pedalaman di sebuah pulau di Indonesia, seorang siswi SMA melihat video NCC di Youtube, dan mengajak teman-temannya untuk membuat pyramid atau stunt yang sama, TANPA dibekali dengan teknik yang benar dan aman. Itu mungkin contoh kasar saja, namun pada intinya itulah yang akan terus terjadi, bukan hanya di pedalaman di suatu pulau, tapi bahkan di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Jakarta.

Di titik ini, saya sangat yakin, mungkin saya baru bisa meyakinkan 50% dari kalian. Sisanya pasti masih beranggapan bahwa penurunan standar ini akan menurunkan kualitas Cheerleading di Indonesia. Sekali lagi saya coba yakinkan, KUALITAS sebuah olah raga bukanlah ditentukan dari SEBERAPA SULIT teknik yang dilakukan.. sama sekali bukan. Olah raga yang berkualitas adalah yang dilakukan dengan teknik yang benar dan aman!

Ditulis Oleh:
OKI TRIHARTOMO
Presiden ICC
Rules Committe – Asian Federation of Cheerleading
IFC Qualifed Judge

Latar Belakang Cheerleading:
- Anggota tim ICC All-Stars dalam CAIOC 2007, Tokyo, Jepang
- Anggota tim ICC All-Stars 2006-2008

Pendidikan Cheerleading:
- IFC Class I Course, Tokyo, Jepang 2006
- IFC Class II Course, Tokyo Jepang, 2008
- IFC Judging COurse, Moscow, Russia, 2009

Pengalaman Melatih:
- Pelatih tim ICC All-Stars 2008-sekarang
- Pelatih tim Nasional Cheerleading Indonesia dalam World Cheerleading Championship 2009 di Bremen Germany, dan 2011 di Hong KOng.
- Instruktur IFC CLass I Course, Bangkok, Thailand
- Instruktur IFC Class I Course, Manila, Philippines
- Instruktur IFC Class I Course Singapore

Pengalaman Juri:
- Shadow judging IFC Cup, Moscow, Russia, 2009
- Juri Cheerleading Asia INternational Open CHampionship (CAIOC), Tokyo, Jepang
- Juri Asian-Thailand Cheerleading Invitational di Bangkok, Thailand, 2008, 2009, 2010, 2011
- Juri Thailand National Cheerleading Championship, 2012
- Juri Phillipinnes National Games, Bacolod City, Philippines, 2010
- Juri Cheerobics, Singapore,
- Juri Singapore Cheerleading Championship, Singapore, 2010, 2011, 2012
- Juri Cheerleading World Championship (CWC) 2009, Bremen, Germany
- Juri Cheerleading World Championship (CWC) 2011, Hong Kong

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (3)

Cheerleading Talkshow di @America


ICC Cheerleading Talkshow @America
Untuk pertama kalinya di Indonesia diadakan talkshow tentang Cheerleading, yang diselenggarakan tanggal 29 Juli 2012 mulai jam 3-5 sore, di @America, Pacific Place lantai 3, Jakarta. Acara ini diadakan berkat kerjasama antara ICC dengan Pusat Kebudayaan Amerika, @America.


Sejak pukul 14.30, ruang presentasi di @America sudah mulai kedatangan Cheerleader dari sekitar Jabotabek, yang ingin menyaksikan talkshow ini. Hingga akhirnya acara dimulai, dengan disaksikan sekitar 300+ audience, yang tentunya sebagian besar dari kalangan Cheerleader. Pembicara dalam talkshow ini adalah Oki Trihartomo, ICC President dan pelatih tim ICC All-Stars dan timnas Indonesia, serta Ami Sulistyo, mantan anggota ICC All-Stars, Tim Nasional Cheerleading Indonesia, dan co-coach Gazelles, juara nasional tingkat SMA.
Dalam acara yang berdurasi 2 jam ini, dibahas beberapa topik, mulai dari Sejarah Cheerleading di dunia, SAFETY dalam Cheerleading, apa itu Cheerleading, sekilas tentang penilaian, dan sekilas tentang perkembangan Cheerleading di dunia dan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Acara ini berlangsung sangat seru dan meriah, dengan sesekali diselingi presentasi video, serta demo teknik dari 4 orang anggota tim Nasional Indonesia.


Durasi 2 jam ternyata sangat kurang untuk menyelesaikan keseluruhan topik yang akan dibahas, sehingga sayangnya ada beberapa topik yang harus dilewati dan dipercepat. Kendati demikian, pengunjung tampak puas dan terhibur, serta mendapat banyak ilmu dan perspektif baru dalam dunia Cheerleading. Kendati berlangsung di bulan puasa, terhitung “injury time” saat berbuka, namun penonton terlihat antusias dari awal hingga akhir menyimak presentasi yang disuguhkan.

ICC Cheerleading Talkshow @America

Untuk yang tidak dapat hadir, bisa melihat video full dari awal hingga akhir disini:

http://www.atamerica.or.id/video/detail/308/Talk-Show-Cheerleading

(durasi 2 jam, butuh internet berkecepatan tinggi, dan video tidak bisa di-save)

Foto2 selengkapnya bisa dilihat disini:

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151309029798761.564081.64942188760&type=3

ICC Cheerleading Talkshow @America

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (0)

IFC Class II Course Indonesia


IFC Class II Course Indonesia

IFC Class II Coaching Course adalah sertifikasi pelatih internasional sesuai standar IFC, yang merupakan sertifikasi lanjutan bagi mereka yang telah lulus sertifikasi Class I.
Tanggal 7-9 Mei 2012 untuk pertama kalinya ICC mengadakan Class II Course di Indonesia, tepatnya di pintu merah Gelora Bung Karno, Senayan. dengan 2 instruktur dari Jepang, dan diikuti oleh 8 pelatih ICC yang telah lulus Class I.

Setelah melewati 2 hari pendidikan dan 1 hari ujian tertulis dan praktek, 1 (satu) orang berhasil lulus ujian kedua ujian tersebut, yakni Frida Dini Cahya Asih, pelatih STORM dan FALCON. Congrats!! :)

Ujian tertulis dan praktek Class II memang sangatlah sulit, dan memang membutuhkan skill melatih yang sangat baik(untuk ujian praktik) dan pengetahuan tentang Cheerleading yang sangat baik (untuk tes tertulis).

Hingga saat ini, hanya ada 4 pelatih Indonesia yang telah lulus sertifikasi Class II ini.

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (0)

ICC Coaches Meeting 2011 (Jakarta)



23 dari 29 pelatih ICC yang ada di Jakarta menghadiri ICC Jakarta Coaches Meeting 2011, pada tanggal 11 Desember 2011, di VVIP Room Inul Vista, FX Senayan. Ini adalah rapat tahunan bagi para pelatih ICC yang ada di Jakarta, yang sangat penting, dalam rangka menyamakan visi, teknik Cheerleading dan pemahaman yang standar tentang Cheerleading yang baik dan aman.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama 4 jam ini, antara lain dibahas tentang ICC Cheerleading Academy, Class I, II dan Judging Class, Kode Etik Pelatih & Cheerleader, Materi Coaching, brainstroming untuk ICC Cup dan NCC2012, serta workshop singkat tentang Penjurian yang benar sesuai standar IFC.

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (1)

IFC Coaches Training Class I



Untuk kedua kalinya, di Indonesia telah diadakan Sertifikasi pelatih Cheerleading Internasional, “IFC Coaches Training & Examination CLASS I”., yang diselenggarakan oleh IFC dengan ijin resmi dari IFC, pada tanggal 1-3 Juli 2011 di Senayan, Jakarta.  Class I ini adalah sertifikasi untuk pelatih Cheerleading yang mengajarkan dasar-dasar safety yang harus diikuti oleh Pelatih Cheerleading sesuai standar Internasional, dimana yang lulus ujian nantinya akan mengantongi sertifikat Class I, dan terdaftar secara resmi di Kantor Pusat IFC di Tokyo, Jepang.

Pelatihan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, yakni 2 hari pelatihan (tertulis dan praktik), dan 1 hari ujian praktik + tertulis. Semua materi pelatihan didatangkan langsung dari IFC, lengkap dengan soal-soal ujian serta lembar jawabannya, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh staf ICC.

Sertifikasi ini tidak seperti Coaching Clinic atau Cheers Camp yang mengajarkan bagaimana menjadi “Cheerleader yang baik”, namun mengajarkan bagaimana menjadi “Pelatih Cheerleader yang baik”. Materi pelajaran berfokus pada safety, filosofi mendalam tentang unsur-unsur dalam Cheerleading, bagaimana menjadi pelatih yang baik, benar, dan aman, serta tentu materi teknik Cheerleading.

Sebanyak 18 orang pelatih Cheerleader ikut serta dalam event ini, termasuk 1 orang dari Semarang dan 1 orang yang datang jauh-jauh dari Papua khusus hanya untuk menghadiri sertifikasi ini, dan semuanya tampak tekun dan bersemangat dalam menyimak setiap pelajaran yang diberikan oleh instruktur. Setelah melalui 2 hari belajar, serta mengikuti tes tertulis dan praktik di hari ketiga, 8 orang berhasil lulus, dan dengan demikian secara resmi mengantungi sertifikat CLass I ini.

Berikut pelatih yang LULUS:

  1. Anis Dewi Febrianti
  2. Pleti Junias
  3. Mulyandani
  4. Mafiez Ramadhan
  5. Luki Andri Kurniawan
  6. Frida Dini Cahya Asih
  7. Henry Timothy Munthe
  8. Vranita V.

Kepada yang tidak lulus ujian kali ini, diperkenankan mengikuti Ujian Remedial pada saat Class I berikutnya diadakan.

Selamat kepada seluruh peserta, baik yang lulus dan tidak, semoga semua ilmu yang didapat selama masa pelatihan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas Cheerleading di Indonesia.

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (2)

Coaching Clinic – Denpasar



Akhirnya pulau Dewata Bali “tersentuh” oleh ICC, dan 30 orang perwakilan dari 6 SMA di Denpasar, serta beberapa Universitas, belajar teknik Cheerleading yang baik dan benar, aspek safety dalam Cheerleading, serta konsep Cheerleading sebagai olah raga. Terima kasih buat tim CHAESAR yang sudah meng-organize event ini. Sukses terus buat Cheerleaders Denpasar, sampai jumpa di NCC 2011 ;)

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (0)

ICC All-Stars Bandung, welcome aboard!


ICC All-Stars Bandung
Setelah melalui dua tahap seleksi pada tanggal 16 dan 23 Maret 2007, akhirnya 20 orang terpilih untuk menjadi tim inti ICC All-Stars Bandung, dari sekitar 50 orang yang sangat antusias untuk menjadi bagian dari tim yang bakal memberi warna beda bagi dunia Cheerleading di Bandung ini.
Baca Selengkapnya >>

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (28)

ICC Coaching Clinic Balikpapan


Coaching Clinic BalikpapanSetelah Jakarta dan Bandung, giliran Balikpapan yang menjadi “sasaran” ICC untuk mengadakan Coaching Clinic. Tepatnya tanggal 24-25 Maret 2007, bertempat di Gedung Biru Kaltim Post, dua orang official ICC melatih sekitar 25 orang yang sangat antusias untuk mempelajari teknik-teknik Cheerleading yang benar dan aman. Pada hari Sabtu, 24 Maret, acara dimulai pukul 15.00-18.00, sedangkan keesokan harinya dimulai pukul 08.00-13.00. Banyak sekali yang dipelajari oleh para peserta, mulai dari motion, jumps, stunts yang sederhana seperti shoulder sit, hingga yang tingkat lanjutan seperti basket toss. At the end of the day, para peserta yang rata-rata memang sudah menjadi anggota dari tim Cheerleader tampak cukup cepat menyerap materi yang diterapkan.
Special thanks to Maharani Cindy, acara ini tidak akan mungkin terlaksana jika tanpa inisiatif dan dukungan darinya. :)

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (13)

Cheerleading Coaching Clinic Bandung


ICC Cheerleading Coaching Clinic BandungAkhirnya kesampaian juga ICC bikin Cheerleading Coaching Clinic di Bandung, setelah sempet tertunda dari bulan November kemarin. Acara ini digelar di aula SMA 5 Bandung, mulai sekitar jam 10.00 sampai sekitar pukul 16.00, dengan diikuti oleh puluhan cheerleaders dari 8 SMA di Bandung. Baca Selengkapnya >>

Use Facebook to Comment on this Post

Posted in Serba SerbiComments (10)